YABI dan BTNWK Gandeng Kelompok Perempuan Desa Penyangga Hadirkan Produk Terinspirasi Badak Sumatera

 

Di Desa Braja Harjosari, Lampung Timur, tangan-tangan terampil para perempuan menjadi bagian dari kisah baru tentang konservasi. Dari desa yang menjadi salah satu dari 38 desa penyangga Taman Nasional Way Kambas (TNWK), lahir sebuah kolaborasi yang mempertemukan keterampilan perempuan dengan upaya melestarikan salah satu mamalia paling langka di dunia: badak sumatera.

Pada 9 Februari 2026, Balai Taman Nasional Way Kambas (BTNWK) bersama Yayasan Badak Indonesia (YABI) mengunjungi kelompok ibu-ibu pengrajut Savana di Desa Braja Harjosari. Pertemuan yang didukung oleh Women’s Earth Alliance ini menjadi ruang untuk saling berbagi cerita—tentang perjalanan kelompok Savana membangun usaha kerajinan tangan, sekaligus tentang badak sumatera yang hidup tidak jauh dari tempat mereka tinggal.

Kelompok Savana berawal dari inisiatif para perempuan desa yang belajar merajut secara otodidak. Dengan ketekunan, mereka menghasilkan berbagai produk seperti tas dan kerajinan rumah tangga yang dipasarkan dari desa ke desa. Seiring waktu, keterampilan mereka semakin dikenal hingga suatu hari seorang wisatawan memesan boneka badak sumatera. Dari situlah muncul ide bahwa karya rajut juga dapat menjadi media untuk mengenalkan satwa khas Indonesia.

Badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) merupakan satu dari lima spesies badak yang masih bertahan di dunia dan kini hanya dapat ditemukan di Indonesia. Salah satu habitat pentingnya berada di Taman Nasional Way Kambas. Dengan populasi yang diperkirakan kurang dari 80 individu di alam, spesies ini berstatus Kritis (Critically Endangered) berdasarkan IUCN Red List sehingga membutuhkan dukungan dari berbagai pihak untuk memastikan kelangsungan hidupnya.

Melalui pertemuan tersebut, para anggota kelompok Savana tidak hanya berbagi cerita tentang hasil karya mereka, tetapi juga memperoleh pengetahuan baru mengenai badak sumatera, perannya bagi ekosistem, serta berbagai upaya konservasi yang sedang dilakukan. Dari percakapan sederhana itu tumbuh sebuah gagasan bersama: menghadirkan produk rajut yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga membawa pesan konservasi badak sumatera, khususnya 10 ekor badak sumatera yang kini menempati fasilitas semi in situ Suaka Rhino Sumatera Taman Nasional Way Kambas (SRS TNWK) yang dikelola oleh BTNWK dan YABI.

Saat ini, YABI bersama kelompok perempuan Savana tengah menyiapkan sebuah produk kolaborasi yang terinspirasi dari 10 badak sumatera di SRS TNWK. Setiap rajutan nantinya bukan sekadar hasil karya tangan, tetapi juga menjadi simbol keterampilan, kepedulian, dan harapan agar semakin banyak orang mengenal serta mendukung pelestarian badak sumatera. Karena konservasi tidak selalu dimulai dari dalam hutan. Terkadang, ia lahir dari ruang-ruang sederhana di desa, dari tangan-tangan perempuan yang merajut benang menjadi karya, lalu mengubahnya menjadi cerita tentang harapan bagi masa depan badak sumatera.

Nantikan produk kolaborasi ini dan jadilah bagian dari perjalanan menjaga badak sumatera bersama kami!

Share this page…

Other News

Happy 10th Birthday, Delilah!

Halo, aku Delilah! Aku lahir pada 12 Mei 2016 di Suaka Rhino Sumatera (SRS) di Taman Nasional Way Kambas. Hari ini usiaku genap 10 tahun! Namaku, “Delilah,” diberikan oleh Presiden…