Program Pengembangbiakan Badak Sumatera melalui Suaka Rhino Sumatera (SRS), Taman Nasional Way Kambas, Indonesia (1 Oktober 2024 – 30 September 2025)

Suaka Rhino Sumatera (SRS) yang berada di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung, Indonesia, saat ini menjadi satu-satunya fasilitas pengembangbiakan badak sumatera secara semi in-situ di dunia yang berhasil. Hingga kini, SRS TNWK telah mencatat lima kelahiran badak sumatera yang lahir melalui proses pengembangbiakan alami. Fasilitas ini dikelola bersama oleh Kementerian Kehutanan Republik Indonesia melalui Balai Taman Nasional Way Kambas dan Yayasan Badak Indonesia (YABI).

SRS TNWK berada di dalam Zona Konservasi Khusus (ZKK) Taman Nasional Way Kambas dengan luas fasilitas SRS TNWK sekitar 250 hektare. Area ini terbagi ke dalam dua lingkaran, masing-masing dihuni oleh lima individu badak sumatera. Interaksi antara petugas dan badak dijaga seminimal mungkin. Kontak harian dengan dokter hewan, keeper badak, dan paramedis hanya dilakukan pada pagi hari di kandang perawatan. Setelah itu, badak kembali dilepas ke kawasan hutan untuk menjalani perilaku alaminya mulai dari berkubang, mencari pakan, menjelajah, hingga beristirahat di hutan. Setiap badak memanfaatkan area hutan seluas kurang lebih 2 × 10 hektare.

Di SRS TNWK, sebanyak 46 petugas yang terdiri dari keeper badak, dokter hewan, paramedis, tim manajemen, petugas keamanan, serta staf dapur bekerja bersama untuk merawat sepuluh individu badak sumatera, terdiri dari empat badak jantan dan enam badak betina. Badak jantan yang menempati fasilitas SRS TNWK diantaranya Andalas (24 tahun), Harapan (18 tahun), Andatu (13 tahun), dan Indra (2 tahun). Sementara badak betina terdiri dari Bina (45 tahun), Ratu (24 tahun), Rosa (22 tahun), Delilah (9 tahun), Sedah Mirah (3 tahun), dan Anggi (2 tahun). Setiap badak dirawat oleh dua keeper badak yang secara rutin melakukan perawatan harian di kandang perawatan.

Melalui pengaturan pasangan yang direncanakan secara cermat, program pengembangbiakan terus memberikan harapan baru bagi kelangsungan spesies ini. Selama tanggal 1 Oktober 2024 sampai 30 September 2025, terdapat empat pasangan badak yang dipertemukan untuk program pengembangbiakan alami, yaitu Andalas–Ratu, Harapan–Delilah, Rosa–Andatu, serta Bina–Harapan. Pengaturan pasangan ini merupakan bagian dari protokol rutin yang dilakukan setiap kali badak betina memasuki masa subur. Hal ini penting mengingat badak sumatera betina yang jarang bertemu jantan memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan reproduksi, termasuk mioma rahim.

Tahun ini juga menjadi momen penting bagi dua pasang induk-anak badak di SRS TNWK, dimana telah dilakukan pemisahan alami antara Anggi dan induknya, Ratu, sebagai bagian dari proses menuju kemandirian individu. Selain itu, pada November 2025, ketika Indra mencapai usia dua tahun, direncanakan juga pemisahan antara Indra dan induknya, Delilah. Badak sumatera merupakan satwa yang bersifat soliter. Oleh karena itu, pada usia sekitar dua tahun, anak badak di SRS TNWK mulai dipisahkan dari induknya agar sesuai dengan perilaku alaminya. Bagi induk badak sumatera, tahap ini merupakan bagian dari siklus reproduksi yang panjang, mulai dari masa kebuntingan selama 15–16 bulan hingga pengasuhan anak selama dua tahun.

Untuk memastikan keamanan badak dan seluruh fasilitas, patroli rutin, dan pengoperasian real time camera dilakukan di seluruh area SRS seluas 250 hektare, serta  pemantauan Zona Konservasi Khusus. Selain merekam aktivitas badak, kamera-kamera ini juga sesekali menangkap keberadaan satwa lain seperti gajah sumatera, harimau sumatera, rusa, dan tapir. Temuan tersebut menjadi bukti bahwa fasilitas SRS TNWK dirancang dengan tetap mengedepankan keanekaragaman hayati, sehingga keberadaannya tidak mengganggu pergerakan satwa liar maupun proses ekologis di Taman Nasional Way Kambas. Upaya pengamanan ini menjadi bagian penting dalam menjaga salah satu fasilitas konservasi badak sumatera terpenting di dunia.

Kegiatan konservasi berbasis sains di SRS TNWK terus dilakukan melalui program detection dog yang bertujuan mengumpulkan sampel DNA feses dan environmental DNA (eDNA). Sampel-sampel ini kemudian dianalisis menggunakan metode qPCR. Program detection dog dilaksanakan bekerja sama dengan Working Dogs for Conservation, dengan menggunakan dua anjing pelacak pada periode Juli–Agustus 2025. Sampel DNA dan eDNA selanjutnya dianalisis oleh dua perguruan tinggi mitra yang memiliki keahlian di bidang genetika, yaitu IPB University di Bogor, Jawa Barat, dan Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta. Sampel eDNA yang dikumpulkan terdiri dari feses (DNA), sedangkan sampel eDNA berasal dari air dan sedimen kubangan, aliran sungai, jaring laba-laba, bekas tumbuhan makan, permukaan daun, pacet, dan caplak. UGM menyatakan bahwa hasil analisis eDNA dengan qPCR (alat yang digunakan Bento Lab dan Mic qPCR) menghasilkan sebanyak 59 sampel teridentifikasi positif badak sumatera.

Penguatan kapasitas sumber daya manusia juga menjadi bagian penting dari program ini. Keeper badak, dokter hewan, paramedis, dan staf SRS TNWK mengikuti program peningkatan kompetensi melalui studi banding dan pertukaran teknis di Taman Safari Indonesia. Kegiatan ini berfokus pada penerapan praktik terbaik dalam pengelolaan satwa, perawatan medis, serta manajemen kesejahteraan satwa, guna mendukung pengelolaan badak sumatera yang berkelanjutan dalam jangka panjang.

Pada periode ini, YABI juga menerima kunjungan dari International Rhino Foundation serta Menteri Kehutanan Republik Indonesia ke Suaka Rhino Sumatera. Kunjungan tersebut semakin memperkuat kolaborasi, dukungan kelembagaan, serta komitmen bersama dalam mengamankan masa depan badak sumatera.

Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada International Rhino Foundation atas dukungan dan kemitraan yang terus berlanjut dalam upaya perlindungan badak sumatera.  Bersama-sama, mari kita jaga badak sumatera yang kini hanya ada di Indonesia.

 

——————————————————————————-

Yayasan Badak Indonesia (YABI)’s Sumatran Rhino Breeding Program Through Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) in Way Kambas NP, Indonesia (October 1st 2024 – September 30th 2025)

 

The Sumatran Rhino Sanctuary (SRS), located within Way Kambas National Park (WKNP), Lampung, Indonesia, is currently the only successful semi in-situ Sumatran rhino breeding facility in the world. To date, the sanctuary has recorded five Sumatran rhino births through a natural breeding program. The SRS WKNP is jointly managed by the Ministry of Forestry of the Republic of Indonesia, through the Way Kambas National Park Authority, and Yayasan Badak Indonesia (YABI).

The SRS WKNP is situated within the Special Conservation Zone (ZKK) of Way Kambas National Park and covers a total area of 250 hectares, divided into two forest rings (enclosures), each currently inhabited by five Sumatran rhinos. Human interaction with the rhinos is intentionally kept to a minimum. Daily contact with veterinarians, rhino keepers, and paramedics occurs only in the morning at the rhino stalls. Afterward, the rhinos are released back into the forest, where they continue their natural behaviors such as wallowing, foraging, exploring, and resting. Each rhino utilizes a total forest area of approximately 2 × 10 hectares.

At the SRS WKNP, a dedicated team of 46 staff including animal keepers, veterinarians, paramedics, management, security personnel, and kitchen staff, work collaboratively to care for ten Sumatran rhinos. The current population consists of four males and six females. The male rhinos are Andalas (24 years), Harapan (18 years), Andatu (13 years), and Indra (2 years). The female rhinos are Bina (45 years), Ratu (24 years), Rosa (22 years), Delilah (9 years), Sedah Mirah (3 years), and Anggi (2 years). Each rhino is supported by two dedicated rhino keepers who conduct daily care routines at the rhino stalls.

 

Through carefully planned pairings, the breeding program continues to generate renewed hope for the species. During October 1st 2024 until September 30th 2025, four breeding pairs were managed: Andalas–Ratu, Harapan–Delilah, Rosa–Andatu, and Bina–Harapan. These pairings are part of a routine breeding protocol conducted whenever a female enters her fertile period, as female Sumatran rhinos that rarely encounter males face a higher risk of reproductive disorders, including uterine myoma.

This year also marked the natural separation of Anggi from her mother, Ratu—an important milestone in supporting individual independence. In addition, in November 2025, when Indra reaches two years of age, separation from his mother, Delilah, is planned. Sumatran rhinos are naturally solitary animals; therefore, calves are gradually separated from their mothers at around two years of age to reflect their natural behavior. For female rhinos, this follows an intensive reproductive cycle that includes a 15–16 month gestation period and maternal care lasting up to two years.

To ensure the safety of the rhinos and all facilities, routine patrols and the operation of real-time camera systems are conducted across the entire 250-hectare SRS area, as well as within the Special Conservation Zone. In addition to recording rhino activity, these cameras occasionally capture other wildlife species such as Sumatran elephants, Sumatran tigers, deer, and tapirs. These findings demonstrate that the SRS facility in Way Kambas National Park has been designed with biodiversity in mind, ensuring that its presence does not disrupt wildlife movement or ecological processes within the park. These security measures are a critical component in safeguarding one of the world’s most important Sumatran rhino conservation facilities.

Science-based conservation efforts at the SRS WKNP continue through the detection dog program, which aims to collect fecal DNA and environmental DNA (eDNA) samples. These samples are analyzed using qPCR methods. The detection dog program is implemented in collaboration with Working Dogs for Conservation, with two detection dogs deployed during July–August 2025. The DNA and eDNA samples are subsequently analyzed by two partner universities with strong expertise in genetic research: IPB University in Bogor, West Java, and Universitas Gadjah Mada (UGM) in Yogyakarta. The collected samples include fecal samples for DNA analysis, while eDNA samples are obtained from water and sediment in wallows, river streams, spider webs, feeding traces on vegetation, leaf surfaces, leeches, and ticks. UGM reported that qPCR analysis (using Bento Lab and Mic qPCR instruments) identified 59 samples as positive for Sumatran rhino presence.

Capacity building is further strengthened through professional development opportunities for rhino keepers and veterinarians, including comparative studies and technical exchanges at Taman Safari Indonesia, Bogor, West Java. These activities focus on best practices in animal husbandry, veterinary care, and wildlife management, and are designed to enhance the long-term management and welfare of Sumatran rhinos under human care.

During October 1st 2024 until September 30th 2025, YABI also welcomed visits to the SRS WKNP from the International Rhino Foundation and the Minister of Forestry of the Republic of Indonesia. These visits further strengthened collaboration, institutional support, and a shared commitment to securing the future of the Sumatran rhino.

We sincerely thank the International Rhino Foundation for their continued support and partnership in protecting the Sumatran rhino. Together, we protect the legacy of the Sumatran rhino. One life, one future at a time.

Share this page…

Other News

Happy 2nd Birthday, Indra!

Happy Birthday, Indra! Indra adalah anak dari Delilah dan Harapan. Ia merupakan anak kelima badak sumatera yang lahir di Suaka Rhino Sumatera (SRS) Taman Nasional Way Kambas, Indonesia, dan hari…