{"id":1895,"date":"2019-02-05T23:35:39","date_gmt":"2019-02-05T23:35:39","guid":{"rendered":"http:\/\/badak.or.id\/?p=1895"},"modified":"2019-03-04T03:41:48","modified_gmt":"2019-03-04T03:41:48","slug":"perluasan-habitat-upaya-nyata-menyelamatkan-badak-jawa-dari-kepunahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/badak.or.id\/en\/perluasan-habitat-upaya-nyata-menyelamatkan-badak-jawa-dari-kepunahan\/","title":{"rendered":"Perluasan Habitat, Upaya Nyata Menyelamatkan Badak Jawa dari Kepunahan"},"content":{"rendered":"<p>Badak jawa (<em>Rhinoceros sondaicus<\/em>)\u00a0 merupakan kategori species kritis (\u201c<em>critically endangered<\/em>\u201d)\u00a0berdasarkan IUCN\u2019s Red Data List of Threatened Species, kini keberadaannya di dunia hanya ada di Taman Nasional\u00a0 Ujung Kulon (TNUK). Saudaranya yang dulu pernah tersisa di Vietnam telah dinyatakan punah sejak tahun 2010. Jumlahnya di TNUK saat ini hanya 67 ekor\u00a0 (Press Release Balai TNUK 2016). Penyebarannya di kawasan TNUK terkonsentrasi\u00a0 di areal Semenanjung Ujung Kulon. Populasi yang relatif kecil (kurang dari 100 individu) yang terkonsentrasi pada satu kawasan yang terisolir mengandung derajat keterancaman punah yang tinggi baik sebagai akibat bencana alam, perubahan habitat, maupun sifat intrinsic biologis\/genetiknya sendiri. \u00a0Semenanjung Ujung Kulon \u00a0merupakan bagian paling ujung dari bagian Barat Pulau Jawa , yang posisinya berada di Selat Sunda berdekatan dengan\u00a0 Gunung \u00a0Krakatau, sesar Indo-Australia, sesar Semangka dan sesar Selat Sunda sendiri<\/p>\n<p>Oleh karena jumlahnya yang terbatas dan berada di lokasi yang posisinya berdekatan dengan faktor ancaman stockastic alami seperti letusan Gunung Anak Krakatau dan biologis seperti ancaman inbreeding, para ahli dan penggiat konservasi mengkhawatirkan kelestarian Badak Jawa di masa yang akan datang.<\/p>\n<p><strong>MERESPON PASCA TSUNAMI SELAT SUNDA \u00a02018<\/strong><\/p>\n<p>Pada Sabtu 22 Desember 2018, sekitar jam 21.30 WIB telah terjadi Tsunami di Selat Sunda sebagai dampak dari longsornya \u00a0lereng Gn. Anak Krakatau seluas 64 Ha \u00a0(Sumber: BMKG).\u00a0 Material longsoran lereng\u00a0 Anak Krakatau yang volumenya diestimasi\u00a0 sekitar 150-180 juta meter kubik (Sumber :\u00a0 PVMBG) itu menimbulkan gelombang tsunami\u00a0 yang mampu memporak-porandakan rumah dan bangunan lain serta menimbulkan korban jiwa di beberapa titik di pantai Selat Sunda di lima Kabupaten, yaitu Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang (di Propinsi Banten),\u00a0 Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Tanggamus, dan Kabupaten Pesawaran (di Propinsi Lampung).<\/p>\n<p>Gelombang tsunami itu\u00a0 juga menyapu sebagian kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) di Kabupaten Pandeglang. Dua orang petugas taman nasional yang sedang bertugas di Citelang menjadi korban meninggal \u00a0terbawa arus. Selain itu, sejumlah bangunan kantor dan kapal milik TNUK juga hancur diterjang tsunami.<\/p>\n<p>Tsunami kali ini tidak berdampak terhadap badak jawa dan habitatnya, baik yang di Semenanjung maupun yang di JRSCA.\u00a0 \u00a0Kawasan TNUK yang terdampak oleh tsunami kali ini adalah kerusakan hamparan \u00a0vegetasi hingga 100 meter dari bibir pantai di Citelang, Jamang, dan Tanjung Alang-alang yang terletak di ujung Utara sebelah Barat dari Semenanjung. Tidak ada data badak jawa yang terdampak, mungkin saat kejadian tidak ada badak yang sedang berada di tempat-tempat tersebut (Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon,\u00a0 Dr. Ir. U. Mamat Rahmat). Menjadi dugaan apakah badak jawa \u00a0secara instinktif sudah terlebih dahulu menangkap \u201csinyal-sinyal\u201d akan terjadinya bencana, sehingga \u00a0lari menjauhi atau menghindar dari daerah yang mungkin akan terdampak.<\/p>\n<p>Meskipun demikian, peristiwa ini menjadi bukti dan meningkatkan kekhawatiran terjadinya bencana akibat dari aktifitas Gn. Anak\u00a0 Krakatau bisa terjadi. Apabila runtuhan dinding Gn Anak Krakatau lebih besar sehingga menimbulkan tsunami yang lebih besar, maka dampak terhadap kawasan Semenanjung \u00a0TNUK bukan mustahil akan lebih besar dan dapat mengenai badak jawa yang ada di dalamnya. Oleh karena itu respon yang tepat dan relatif cepat diperlukan untuk sedini mungkin mengamankan badak jawa dari ancaman bencana\u00a0 GN. Anak Krakatau.<\/p>\n<p>Respon tersebut telah sebelumnya diantisipasi berupa upaya percepatan masuknya lebih banyak badak dari Semenanjung\u00a0 ke areal JRSCA dengan membuat koridor Cibanowoh \u2013 Karangranjang\u00a0 dan upaya tambahan yang perlu segera dilaksanakan dengan perluasan areal JRSCA ke arah Gunung Honje. Mengingat sampai saat ini belum disepakati lokasi mana di luar kawasan TNUK yang dapat dijadikan sebagai habitat kedua, maka setidaknya populasi badak di Semenanjung dapat \u201cdievakuasi\u201d ke areal JRSCA.<\/p>\n<figure class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full\" src=\"http:\/\/mongabaydotorg.wpengine.com\/wp-content\/uploads\/2015\/01\/Badak-jawa-sedang-bergenang-di-sungai-Cigenter-Foto-Stephen-Belcher-Dok-BTNUK.jpg\" alt=\"\" width=\"1180\" height=\"787\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\">Badak jawa yang berada di Sungai Cigenter, Taman Nasional Ujung Kulon. Foto: Stephen Belcher\/Dok. Balai Taman Nasional Ujung Kulon<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>Penetapan JRSCA<\/strong><\/p>\n<p>Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan [sebelumnya Kementerian Kehutanan] berdasarkan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Badak Indonesia, Peraturan Menhut No 43\/2007, telah menetapkan wilayah seluas 5.100 hektar\u00a0yang relatif aman dari ancaman bencana Gn. Krakatau, untuk mempelajari habitat, perilaku dan biologi-reproduksi badak jawa, yang dikelola secara intensif dan terencana sebagai perluasan habitat untuk meningkatkan populasinya serta mempersiapkan individu-individu\u00a0 terpilih untuk nantinya ditranslokasikan ke areal lain di luar kawasan TNUK.<\/p>\n<p>Areal yang secara geografis berada di luar Semenanjung Ujung Kulon ini, dipisahkan Tanah Genting Laban \u2013 Karang Ranjang, merupakan lokasi yang dinamakan\u00a0<em>Javan Rhino S<\/em><em>t<\/em><em>udy and Conservation Area\u00a0<\/em>(JRSCA)\u00a0dengan kegiatannya telah dimulai sejak Tahun 2010.<\/p>\n<p>Dengan pembinaan habitat intensif disertai pembukaan koridor dari Semenanjung Ujung Kulon, diharapkan individu-individu badak bergerak masuk ke areal JRSCA. Individu-individu tersebut, [bersama individu-individu asli di JRSCA], nantinya akan menjadi sub-populasi badak jawa yang dikelola dengan teknik pengembangbiakan relevan [tepat]. Proses ini tentu saja tidak bisa berlangsung cepat, butuh waktu.<\/p>\n<p>Hasil pemantauan menunjukkan, individu badak yang menetap di areal JRSCA setelah dilakukan pengendalian langkap sejak 2012, jumlahnya tiga individu. Semua jantan.<\/p>\n<figure class=\"wp-caption alignnone\">Pagar Utara JRSCA Taman Nasional Ujung Kulon, Foto : JRSCA-YABI<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<figure class=\"wp-caption alignnone\" style=\"width: 847px;\"><a ref=\"magnificPopup\" href=\"http:\/\/badak.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/Pagar-Utara.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-1900 \" src=\"http:\/\/badak.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/Pagar-Utara.jpg\" alt=\"Pagar Utara\" width=\"837\" height=\"627\" srcset=\"https:\/\/badak.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/Pagar-Utara.jpg 554w, https:\/\/badak.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/Pagar-Utara-300x225.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 837px) 100vw, 837px\" \/><\/a><\/p>\n<\/figure>\n<\/figure>\n<p><strong>JRSCA SEBAGAI <em>STEPPING STONE<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Kegiatan pembinaan habitat\u00a0 yang selama ini dilakukan berupa pengendalian langkap \u00a0dan pembatasan\u00a0 aktivitas manusia dan masuknya ternak kerbau\u00a0 telah memberikan dampak positif berupa datangnya dan pemanfaatan habitat oleh badak. Dari data dari ukuran jejak yang didapat, dipastikan sampai saat ini ada 3 ekor badak yang menetap di areal JRSCA.<\/p>\n<p>Dengan tsunami yang relatif \u201ckecil\u201d di areal ini badak tidak terdampak. Hal\u00a0 ini menguatkan bukti bahwa JRSCA dapat difungsikan sebagai batu loncatan (<em>stepping stone<\/em>) sebelum badak-badak betul-betul dapat ditranslokasikan ke habitat lain di luar TNUK. Untuk meningkatkan daya tampung areal JRSCA terhadap badak-badak dari Semenanjung,\u00a0 penting\u00a0 ada upaya perluasan ke arah Gn. Honje yang secara historis juga merupakan areal sebaran badak. Untuk itu diperlukan pengembangan koridor yang menghubungkan blok-blok di dalam areal jrsca yang pernah dihuni badak antara lain yaitu : Bangkonol, Cimahi, Tamanjaya Girang, Cimenteng, sampai Cibiuk dengan koridor Cibandawoh-Karangranjang. Pembuatan koridor dimaksud selain berungsi mengalirkan badak ke areal yang lebih luas juga dapat berfungsi mendekatkan dan meningkatkan kepedulian penggarap kawasan (illegal) terhadap pentingnya melestarikan badak jawa.<\/p>\n<p>Fakta lapangan ini sekaligus menunjukkan, JRSCA merupakan lokasi yang cocok sebagai habitat kedua badak jawa.\u00a0<em>Pertama<\/em><strong>,\u00a0<\/strong>ketersediaan ragam tumbuhan pakan yang mencapai 200 jenis. Ada mara, balanding, sulangkar, bisoro, kijahe, kitanjung, simpeureun, juga tepus dan laban kapas [beberapa jenis ditulis dengan nama lokal].<\/p>\n<figure class=\"wp-caption alignnone\">\n<figure id=\"attachment_1901\" aria-describedby=\"caption-attachment-1901\" style=\"width: 1546px\" class=\"wp-caption alignnone\"><a ref=\"magnificPopup\" href=\"http:\/\/badak.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/Badak-Jawa2.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-1901 size-full\" src=\"http:\/\/badak.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/Badak-Jawa2.jpg\" alt=\"Badak Jawa2\" width=\"1546\" height=\"1159\" srcset=\"https:\/\/badak.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/Badak-Jawa2.jpg 1546w, https:\/\/badak.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/Badak-Jawa2-300x225.jpg 300w, https:\/\/badak.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/Badak-Jawa2-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/badak.or.id\/wp-content\/uploads\/2019\/02\/Badak-Jawa2-600x450.jpg 600w\" sizes=\"auto, (max-width: 1546px) 100vw, 1546px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-1901\" class=\"wp-caption-text\">Badak Jawa di arel JRSCA Taman Nasional Ujung Kulon. Foto: JRSCA-YABI<\/figcaption><\/figure>\n<\/figure>\n<p><em>Kedua<\/em><strong>,\u00a0<\/strong>di areal JRSCA terdapat delapan sungai utama yaitu; Cilintang [sepanjang 8.000 m], Kalejetan [11.300 m], Aer Mokla [4.000 m], Cihujan [5.400 m], Cikarang [4.000 m], Cipunaga [2.000 m], Ciperepet [2.000 m], dan Selokan Duyung [500 m]. Juga, terdapat delapan mata air: Solokan Duyung, Seuseupan, Cihujan, Rorah Salman, Cekekan Cilintang, Leuwi Bedog, Bangkonol, dan Kubangan Santa.<\/p>\n<p><em>Ketiga<\/em><strong>,\u00a0<\/strong>ada tujuh kubangan aktif. Kubangan Pangorok, Seuseupan, Alor Jangkardi, Kalejetan Gede, Aer Mokla, Bangkonol, dan Santa.<\/p>\n<p><em>Keempat<\/em>, beberapa faktor lain, seperti sumber mineral [<em>salt lick<\/em>], terdapat di Cibiuk, daerah Gunung Honje yang tidak jauh dari JRSCA.<\/p>\n<figure id=\"attachment_67773\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-67773\" src=\"https:\/\/www.mongabay.co.id\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/Tumbuhan-bekas-dimakan-badak-di-JRSCA-Selatan-Mei-2018.jpg\" sizes=\"auto, (max-width: 900px) 100vw, 900px\" srcset=\"https:\/\/www.mongabay.co.id\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/Tumbuhan-bekas-dimakan-badak-di-JRSCA-Selatan-Mei-2018.jpg 900w, https:\/\/www.mongabay.co.id\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/Tumbuhan-bekas-dimakan-badak-di-JRSCA-Selatan-Mei-2018-768x576.jpg 768w, https:\/\/www.mongabay.co.id\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/Tumbuhan-bekas-dimakan-badak-di-JRSCA-Selatan-Mei-2018-100x75.jpg 100w\" alt=\"\" width=\"900\" height=\"675\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\">Tanda bekas tanaman yang dimakan badak jawa di JRSCA selatan, Mei 2018. Foto: JRSCA-YABI<\/figcaption><\/figure>\n<p><strong>Permasalahan dalamMencari Habitat Kedua di luar TNUK dan Usulan alternatif<\/strong><\/p>\n<p>Mencari habitat kedua di luar TNUK di P. Jawa tidaklah mudah. Faktor kepadatan penduduk dan aktifitas pembangunan yang demikian pesat merupakan pembatasan yang utama. Suaka Margasatwa Cikepuh lingkungannya mirip dengan \u00a0TNUK, akan tetapi karena kawasan tersebut merupakan areal latihan militer maka menjadi masalah untuk menjadi habitat kedua badak jawa.<\/p>\n<p>Usulan alternatifnya adalah memperluas JRSCA ke arah Cibiuk yang masih berada di Pulau Jawa dan mempersiapkan beberapa kawasan di Luar Jawa \u00a0di Sumatera di mana Badak Jawa pernah hidup. Lokasi potensial di Sumatera itu antara lain TN Way Kambas, Berbak Sembilang,TN. Bukit Tiga Puluh, dan Hutan restorasi ekosistem Harapan di Jambi.<\/p>\n<figure id=\"attachment_67774\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-67774\" src=\"https:\/\/www.mongabay.co.id\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/badak-jawa-berkubang.jpg\" sizes=\"auto, (max-width: 900px) 100vw, 900px\" srcset=\"https:\/\/www.mongabay.co.id\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/badak-jawa-berkubang.jpg 900w, https:\/\/www.mongabay.co.id\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/badak-jawa-berkubang-768x576.jpg 768w, https:\/\/www.mongabay.co.id\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/badak-jawa-berkubang-100x75.jpg 100w\" alt=\"\" width=\"900\" height=\"675\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\">Badak jawa berkubang yang terpantau di Taman Nasional Ujung Kulon. Foto: JRSCA-YABI<\/figcaption><\/figure>\n<p>Peristiwa Tsunami Selat Sunda 2018 semakin menyadarkan kita bahwa pemindahan sebagian populasi Badak Jawa kehabitat lain di luar TNUK sangat penting untuk dilakukan. Seperti pepatah Inggris\u00a0 mengatakan : <strong>\u201c<\/strong> <strong><em>Don\u2019t put all your eggs in one basket \u201c<\/em><\/strong>.\u00a0 Artinya kita jangan mengkonsenterasikan sumber daya , termasuk Badak Jawa, dalam satu area. Kalau itu kita lakukan, maka apabila terjadi bencana di area tersebut, maka habislah semua sumber daya tersebut, tidak ada cadangan lagi.<\/p>\n<p>Namun, mengingat sampai saat ini belum ada keputusan pemerintah wilayah mana yang akan dijadikan habitat kedua, perluasan dan peningkatan preferensi [daya tarik] areal JRSCA bagi badak jawa untuk datang dan menetap penting dilakukan segera.<\/p>\n<p>Percepatan \u201cevakuasi\u201d sebagian populasi badak jawa di Semenanjung Ujung Kulon ke areal ini layak dipertimbangkan. Tujuannya, mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan yang mengancam kehidupan badak jawa, terutama kepunahannya. Sebagaimana hantaman tsunami.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-67775\" src=\"https:\/\/www.mongabay.co.id\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/Peta.jpg\" sizes=\"auto, (max-width: 709px) 100vw, 709px\" srcset=\"https:\/\/www.mongabay.co.id\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/Peta.jpg 709w, https:\/\/www.mongabay.co.id\/wp-content\/uploads\/2019\/01\/Peta-100x76.jpg 100w\" alt=\"\" width=\"709\" height=\"540\" \/> Peta wilayah JRSCA, Taman Nasional Ujung Kulon. Peta: YABI\/TNUK\/IRF<\/p>\n<p><strong>Penulis :\u00a0<\/strong><strong>*Widodo S. Ramono<\/strong>, Direktur Eksekutif Yayasan Badak Indonesia [YABI]. **<strong>Hayani Suprahman<\/strong>, Koordinator JRSCA Ujung Kulon Yayasan Badak Indonesia.\u00a0<em>Tulisan ini opini penulis<\/em><\/p>\n<p>Link berita :\u00a0https:\/\/www.mongabay.co.id\/2019\/01\/25\/perluasan-habitat-upaya-nyata-menyelamatkan-badak-jawa-dari-kepunahan\/<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Badak jawa (Rhinoceros sondaicus)\u00a0 merupakan kategori species kritis (\u201ccritically endangered\u201d)\u00a0berdasarkan IUCN\u2019s Red Data List of Threatened Species, kini keberadaannya di dunia hanya ada di Taman Nasional\u00a0 Ujung Kulon (TNUK). Saudaranya yang dulu pernah tersisa di Vietnam telah dinyatakan punah sejak tahun 2010. Jumlahnya di TNUK saat ini hanya 67 ekor\u00a0 (Press Release Balai TNUK 2016)&#8230;.<\/p>","protected":false},"author":2,"featured_media":1897,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"image","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-1895","post","type-post","status-publish","format-image","has-post-thumbnail","hentry","category-highlight","post_format-post-format-image"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/badak.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1895","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/badak.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/badak.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/badak.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/badak.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1895"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/badak.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1895\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1927,"href":"https:\/\/badak.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1895\/revisions\/1927"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/badak.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1897"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/badak.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1895"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/badak.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1895"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/badak.or.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1895"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}